Senin, Januari 30, 2012

The Birthday Gift

Before 2012, i always made birthday wish list. It normaly consisted of several things.
The things were actually quite similar from year to year.
Pretty much abstract things, i should say.
From scholarship grants to health, the list almost never came true.

Something happened at the beginning of this year.
I'm not sure. Maybe i have grown up or else. I don't know.
But when my husband asked what i want for my birthday, i answered: "a pair of shoes."
He was like... "What??"

I usually don't have such enormous interest in fashion.
In fact, i hate shopping.

Well, maybe I've tranformed to the typical kind of wife. Who knows?

So, all i asked for my birthday this year is this shoes:

Picture's taken from here

But, what i really get today (beside so many BBMs, twitter mentions and messages in FB) is this amazing thing:



Yup readers (if there's any of you).
We're expecting.

Alhamdulillah....

The greatest birthday gift i've ever got.

Rabu, Januari 04, 2012

If there's something i can learn from Erich Segal is that....

....

The best way to get over someone is turn the person into literature and kill her/him.
Kill her/him then you'll kill your feeling.

Masih ingat novel Love Story yang terjual jutaan copy dan kemudian difilmkan dan mencapai box office di tahun 1970?


Kisah Oliver Barret IV dan Jennifer (Jenny) Cavalleri yang mengharu biru itu berhasil menjadi American classic. Nggak heran, penjualan novelnya saja lebih dari 21 juta kopi dan diterjemahkan lebih dari 20 bahasa di seluruh dunia. Filmnya (Diperankan dengan sukses oleh Ryan O'Neal dan Ali McGraw) bahkan meraup keuntungan sampai $106,400,000 di Amerika saja. Itu dan juga 11 piala Oscar. Not bad, huh?


Ternyata, di balik kisah percintaan mahasiswa Harvard University itu ditulis Erich Segal itu terselip sesosok perempuan yang menginspirasi Segal untuk menciptakan karakter Jenny Cavalleri.

Really?
Well..., meet Janet Sussman Gartner.
Being born in Brooklyn, Gartner went to the same school with Segal and later became a very good friend of him.

Gartner loves Beethoven, Bach and the Beatles. She is a pianist, piano coach and accompanist.
She also bites her nail.
Just like Jenny Cavaleri.

Atau itu yang dikisahkannya dalam The Oprah Winfrey Show yang saya tonton tahun lalu.

Guess what?

Menurut Gartner, di suatu pagi, tepatnya pukul 3 dini hari di tahun 1969, Dia menerima telepon dari seseorang.
"Hey Sussy, I just wrote you a 258-page love letter." Begitu kata suara itu.

Tebak, siapa?
Yup! Itu Erich Segal, yang telah bertahun-tahun mengiriminya surat cinta, bahkan setelah Gartner menikah dengan orang lain. Seperti diceritakan Gartner, cinta Segal itu bertepuk sebelah tangan karena Gartner tidak merasakan perasaan yang sama untuk Segal. (She friendzoned that Harvard alumni, level 546788075400.....)

Surat cinta sangat panjang yang dimaksud Segal itulah cikal bakal novel Love Story yang kemudian melegenda.
And that long love letter is his very last love letter for Janet Sussman Gartner.

Mungkin Gartner benar, mungkin juga dia cuma berhalusinasi. Yang jelas, Dia masih menyimpan foto-fotonya bersama Segal. Juga copy dari sebuah majalah Italia bertajuk Oggi, yang mengutip kalimat Segal yang berkata bahwa Janet adalah Jenny. Serta setumpuk surat yang ditujukan kepada 'Sweet Suss' dari 'Erich', 'Segal' dan ''the Kosher Liberace.'' (Segal dan Gartner adalah jewish, yang mungkin menjelaskan penggunaan term 'kosher' di surat itu)

Bukan kebetulan rasanya kalau pada wawancara dengan The Times di tahun 1970, Segal berkata bahwa dia menggunakan kisah salah satu mahasiswanya di Yale (Seagal pernah menjadi professor di Yale) yang istrinya baru saja meninggal untuk novel tersebut akan tetapi mengambil kepribadian tokoh Jenny dari salah satu kekasihnya (yang mana tidak kuliah di Radcliffe sebagaimana tokoh Jenny) pada waktu Seagal masih menjadi mahasiswa Harvard.

Uniknya, dalam proses penulisan novel tersebut, Seagal mengganti tokoh utama wanita dari yang awalnya adalah Brooklyn jewish girl menjadi Italian American from Rhode Island.

Nggak heran kalau kemudian Segal disebut-sebut tidak hanya sekedar terinspirasi, tapi bahkan mengambil kepribadian Janet dan memasukkan ke dalam tokoh Jenny.

Saya sendiri, belum pernah menonton film Love Story itu secara utuh. Kalau novelnya sih udah baca waktu SMA. Dan sejujurnya, kalimat paling hits dari novel ini dan bahkan menjadi tagline filmnya, yaitu "Love means never having you're sorry" menurut saya sih not makes any sense. Bok! kalau cinta ya, harusnya mau minta maaf dong misalkan berbuat salah. Bahkan menurut saya, dalam hubungan yang sehat harusnya minta maaf (dan kemudian nggak mengulangi lagi kesalahan) adalah kewajiban untuk nunjukkin kalau kita menyesal dan benar-benar peduli pada perasaan pasangan kita. Iya nggak sih?

Anyway, kalau penasaran pengen tahu lebih banyak tentang Novel/Film Love Story dan penulisny Erich Seagal, bisa baca-baca di sini.

Minggu, Januari 01, 2012

New day has come

1 Januari 2012

Dear 2011,

You had been such a wonderful year!
Love, experiences, memories and great lessons.
Laugh and tears. Happiness and sadness.
What a rollercoaster ride that was!
I thank you for every single amusing thing. Both expected and unexpected.
Good bye.



Hello 2012,

I know there must be something new, something magnificent is waiting for me.
What do you offer?
Bring it on baby, I'm so ready.
Still, be nice please.



Rabu, Desember 28, 2011

I've learnt my lesson

Entah karena waktu kecil bawel dan galak, atau karena terlihat terlalu berani dan malah kadang-kadang seperti sombong (padahal sok tegar sebagai tameng perlindungan diri), di bangku SD dan SMP, saya seringkali dipercaya mewakili sekolah di berbagai perlombaan cerdas cermat.

Anak dan induk kalimat di atas itu hubungannya apa ya? Nampak nggak ada korelasi...

Anyway,

Dalam tim cerdas cermat, saya hampir selalu menjadi juru bicara. Itu lho, yang duduknya di tengah, di antara pendamping sebelah kiri dan kanan... anak-anak yang besar di tahun 90-an pasti ngerti. Pengalaman yang cukup menggetarkan jiwa. Ingat dulu, guru pelatih tim saya mengharuskan saya berbicara dengan volume tinggi dan nada tegas tiap kali menjawab. Padahal kan saya dasarnya grogian. Teman satu tim udah pada ngerti gimana kebiasaan saya selama pertandingan, jadi nggak kaget kalau mendapat kaki dan tangan saya bergetar hebat di bawah meja. Kadang-kadang suka bikin mejanya ikut bergoyang juga. Ya Allah, tolong...

Karena waktu SD saya lumayan hitss tanding sana sini sampe ke tingkat nasional, jadi begitu masuk SMP, oleh guru pembina saya langsung diplot masuk tim cerdas cermat inti sekolah (btw, jaman saya abege dulu cerdas cermat itu 'sesuatu' banget dalam blantika akademis, jadi rutin diadakan oleh berbagi pihak, makanya sampe ada tim khusus yang rutin latihan).

Pertandingan cerdas cermat pertama saya di bangku SMP benar-benar berkesan. Bagaimana tidak? Tim yang akan sekolah saya hadapi adalah salah satu SMP swasta katolik di kota kelahiran saya yang terkenal disiplin dan siswanya cerdas-cerdas. Reputasi mereka bisa dibilang cukup harum dalam pertandingan cerdas cermat se kotamadya. Jadi, tingkat kegrogian saya meningkat tajam dari pertandingan jaman SD. Apalagi, materi yang dipertandingkan selain pengetahuan umum, juga bahan pelajaran dari kelas 1 sampai 3 SMP. Sementara saya baru beberapa bulan menjadi siswa SMP. Pelajaran kelas 1 saja, belum semua saya dapatkan.

Menurut kabar burung (i'm gonna stop you right here for while, does anybody know why do we always blame the birds for every grapevine / rumor / gossip?) yang beredar, tim SMP lawan itu akan menurunkan tim inti mereka yang terdiri dari siswa kelas 3. The perfect combination of this fact and my not-so-tough-mental made me kalah sebelum bertanding.

Tidak cukup sampai di situ, penghancur mental paling dahsyat menunggu saat paling sempurna untuk menampakkan diri.

Sehari sebelum pertandingan, ketika sedang mendalami sesi latihan terakhir, salah seorang guru di sekolah saya menghampiri tim kami untuk bertanya SMP mana yang akan kami hadapi esoknya.

Well, What do we expect from a teacher? What is our (the majority habitant of this planet) least expectation from a teacher? Apapun itu, nggak saya dapatkan dari guru tersebut.

LinkGuess what? Hal yang pertama yang beliau lakukan adalah tertawa. Bukan dengan cara menyenangkan, ngomong-ngomong. Tahu tawa menggelegar yang dipraktekkan Leli Sagita setelah merencanakan skenario balas dendam di sinetron-sinetron? Ya, kayak begitu. Hanya saja, alih-alih mengandung kemarahan, tawanya ini penuh aura meremehkan. Jenis yang akan menciutkan kepercayaan diri. Ini juga mungkin salah satu alasan kenapa saya rada trauma dan suka mimpi buruk abis liat Leli Sagita di TV.

Setelah terpingkal-pingkal sampai bertepuk tangan segala (Serius, drama abis. I don't exaggerate it) dan sukses membuat saya nunduk lama meremas-remas ujung rok (untungnya nggak sampe nangis atau lebih parah, pipis karena grogi dan nahan malu), Beliau pun mengeluarkan kalimat epik yang tidak akan saya lupakan seumur hidup:
"Potong ibu jari saya, kalau kamu bisa mengalahkan SMP itu! Nggak mungkin bisa!!"

You know what..., maybe i should say this back then:


Picture's taken from http://dontcallmesipit.blogspot.com


Who knows? it could end up funny... no?

Yeah, not only we did beat the team, we also managed to go to the semifinal.
Although we were not the winner on that year.

Kenangan ini sedikit banyak mengingatkan saya akan satu urban legend tentang Neil Armstrong yang dikisahkan mengucapkan "Good luck, Mr. Gorsky" ketika mendarat di bulan.

Meskipun Armstrong sendiri menyangkal kebenaran kisah itu dan bahkan apakah misi Appolo II berhasil mendarat di bulan pun masih dipertanyakan kebenarannya oleh sebagian orang, tidak salahnya kalau kita ngintip sedikit cerita yang saya kutip dari sini itu:

LinkOn July 20, 1969, commander of the Apollo 11 Lunar Module, Neil Armstrong was the first person to set foot on the moon. His first words after stepping on the moon, "That’s one small step for a man, one giant leap for mankind", were televised to Earth and heard by millions. But just before he re-entered the lander, he made the enigmatic remark: "Good luck, Mr. Gorsky."

Many people at NASA thought it was a casual remark concerning some rival Soviet Cosmonaut. However, upon checking, there was no Gorsky in either the Russian or American space programs. Over the years many people questioned Armstrong as to what the "Good luck Mr. Gorsky" statement meant, but Armstrong always just smiled. On July 5, 1995, in Tampa Bay, Florida, while answering questions following a speech, a reporter brought up the 26 year old question to Armstrong. This time he finally responded.

Mr. Gorsky had died and so Neil Armstrong felt he could answer the question.
In 1938 when he was a kid in a small Midwest town, he was playing baseball with a friend in the backyard. His friend hit a fly ball, which landed in his neighbor’s yard by the bedroom windows. His neighbors were Mr. and Mrs. Gorsky. As he leaned down to pick up the ball, young Armstrong heard Mrs. Gorsky shouting at Mr. Gorsky. "Sex! You want sex?! You’ll get sex when the kid next door walks on the moon!"


Moral of the stories:
Umpatan, sumpah serapah orang lain, disengaja maupun tidak, bisa jadi doa lho buat kita.

Noted!

Ada yang mau sumpahin saya dapat beasiswa S-2 ke Inggris atau Belanda?

What's waiting us there?

God knows i hate traffic jam.
But, don't we all so?
That's the way i always try to use public transportation in any kind of situation.
Kecuali kalo lagi sakit atau urgent banget.

Karena seperti yang pernah ditulis di sini,
saya percaya solusi paling ampuh mengatasi kemacetan adalah dengan memaksimalkan penggunaan kendaraan umum.
Jadi, walaupun si Kk udah beberapa kali membujuk rayu agar kami kemana-mana nyetir karena menurut dia lebih aman, saya ogah. Cukup dia aja yang menyumbang kemacetan.

Sepertinya, itu semua akan berakhir tahun ini.
Tahun depan, mau nggak mau harus kembali ke belakang setir.
Karena ini:

Picture's taken from here


dan karena belum ada transportasi umum
yang bisa digunakan untuk menempuh perjalanan kurang dari 2 jam dari sana ke sini:

Picture's taken from here


So, i'm welcoming the year 2012 as the citizen of one of Jakarta.....'s satelite town.
God, please stay with me. I'm gonna need you. Like, so desperately bad.

Minggu, Desember 25, 2011

Jumat, Desember 23, 2011

10 + 1 Most Mellow Songs

Kata orang, musik itu pengobat luka, penawar rasa sakit. Dengan mendengar musik, beban di pundak jadi lebih ringan, lupa utang di warung, lupaa.. lupakan sajah semuanya.

Saya pribadi lebih suka lagu, alias musik yang ada liriknya. Kalau dipaksa harus milih, bagi saya lirik itu yang paling penting dalam sebuah lagu. Maklum, saya kan penggila kata-kata. Tapi tetap saja, lagu yang bagus musik dan nadanya harus enak juga lah jek!

Tapi, nggak semua lagu itu remedy lho... salah-salah, bukannya jadi kembali bahagia, malah bisa berujung dengan tenggak bayg*n (eh H*T atau R*id aja deh, secara.. sekarang Bayg*n udah nggak bisa bikin koit lagi). Misalnya nih, lagu-lagu soundtrack waktu pacaran bersama mantan atau mungkin lagu yang berisi pengalaman cinta yang bertepuk sebelah tangan. Bahkan tidak perlu lagu yang secara spesifik pernah ‘bersentuhan’ langsung dengan kenangan masa lalu, tapi juga yang liriknya mellow abis. Dijamin nggak bisa move on deh.

Di antara 5.769.036 (Nu'uh.. I never count them all. So don't think it's real, kay?) lagu yang pernah saya dengar sejak lahir, berikut ini adalah lagu-lagu cinta yang menurut saya punya lirik paling jawara se-antero milky way…., jawara nelangsa dan meratapnya:

1. Someone Like You by Adele (Yeah, you’re bored for sure. But we should admit that the lyric is legen.. effin’ dary! Hits berat di tahun galau ini)

“I heard that your dreams came true. Guess she gave you thing, i didn’t give to you.”

“I hope you’d see my face and that you’d be reminded that for me, it isn’t over yet.”

“Sometimes it lasts in love, but sometimes it hurts instead”


2. Heaven Knows by Rick Price

“She’s always on my mind, from the time i wake up, till i close my eyes. She’s everywhere i go. She’s all i know.”

“And though she’s so fay away, it just keeps getting stronger everyday.”

“My friend keeps telling me, that if you really love her, you’ve gotta set her free. If she returns in time, i’ll know, she’s mine. But tell me where do i start, coz it’s breaking my heart. Don’t wanna let her go..”


3. Don’t You Remember by Adele (Again, no wonder...)

“When will i see you again? You left me with no goodbye, non a single word was said.”

“Don’t you remember? Don’t you remember the reason you love me before?”

“When was the last time you thought of me? Oh have you completely erase me from your memory?”


4. What Am I To You by Norah Jones

“What am i to you? tell me darling true. To me, you are the see. Fast as you can be, deep the shade of blue.”

“When you’re feeling low, to whom else do you go? See, i cry if you’re hurt, i’d give you my last shirt, because i love you so.”

“If my sky should fall, would you even call?”

“When i look in your eyes, i can feel the butterflies. Could you find a love in me? Would you carve me in a tree? Don’t fill my heart with lies.”


5. Terdalam by Peterpan

“Maafkan jika kau kusayangi dan bila kumenanti.”

“Pernahkah engkau coba mengerti. Lihatlah ku di sini. Mungkinkah jika aku bermimpi. Salahkah tuk menanti?”

“Kau telah tinggalkan hati yang terdalam. Hingga tiada cinta yang tersisa di jiwa…”


6. I Have Nothing by Whitney Houston

“Don’t walk away from me… I have nothing, nothing, nothing. If I don’t have you….”


7. Somebody’s Me by Enrique Iglesias

“You, do you remember me? Like i remember you? Do you spend your life, going back in your mind to that time?”

“Somebody wants you. Somebody needs you. Somebody dreams about you every single night. Somebody can’t breathe, without you it’s lonely. Somebody hopes that one day you’ll see that somebody’s me.”


8. Pupus by Dewa

“Baru kusadari, cintaku bertepuk sebelah tangan. Kau buat remuk seluruh hatiku.”

“Semoga waktu akan mengilhami, sisi hatimu yang beku. Semoga akan datang keajaiban hingga akhirnya kau pun mau.”

“Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu. Meski kau takkan pernah tahu..”


9. Nothing Compares to You by Sinéad O’Connor

“It’s been seven hours and fifteen days since you took your love away, i go out every night and sleep all day... i said nothing can take away these blues because nothing compares to you.”

“I could put my arms around every boy i see, but they’d only remind me of you”


Dan ini nih maestronya: Jawara di atas jawara....


10. Kegagalan Cinta by Rhoma Irama

“Kau yang mulai, kau yang mengakhiri. Kau yang berjanji, kau yang mengingkari.”


I think it’s okay to add one more song on this list. You don’t mind, do you?

It is one of Adele’s (Yes, YES!! Again!) but Originally sang by Brandi Carlile, entitled Hiding my heart.

“I wish I could lay down beside you, when the day is done. And wake up to your face against the morning sun. But like everything I’ve ever known you’ll disappear one day.”

“So, I’ll spend my whole life hiding my heart away…”


Sebenernya masih banyak sih lagu berlirik cinta nan galau, yang wajib dihindari kalau berniat nerusin hidup setelah patah hati. Tapi yang lagi top of mind saya sekarang ini, ya 10+1 lagu di atas itu. And… What’s yours?

Pada suatu ketika

Taman. Bunga berwarna-warni. Rumput hijau yang basah. Saya yang berlari ke sana kemari. Ada yang hilang dan harus ditemukan. Di mana dia?

Suara-suara. Tawa dan percakapan yang terasa begitu familiar.

Siapa itu?

Semakin jelas dan nyaring.

Tiba-tiba, semuanya menjadi hitam-putih. Seperti terisap pusaran waktu, semuanya menghilang.

Menjadi bayang-bayang yang perlahan berubah wujud seperti kabut.

Kubuka mata. Apa itu barusan? Mimpi??

Hidungku mengecap semerbak harum teh panas yang menguar dari teko tanah liat.

Suara-suara masih ada. Begitu ramah dan sarat kebahagiaan. Rumah.

Sontak tanganku meraba-raba sekeliling, menggapai apa yang harusnya melingkupi tubuh saat itu; dekapan hangat ibu.

Tapi, nihil. Kupalingkan wajah. Mencari sosok perempuan tua dengan senyum paling tulus sedunia. Nenek. Di mana nenek?

Tak ada ibu, nenek, juga sarung berwarna merah muda yang biasa meliliti kaki mungilku.

Kaki... kakiku tak lagi mungil. Pelan-pelan aku bangun lalu menatap cermin di dinding.

Ah, wajah yang sama. Galak dan murung. Tapi tidak ada lagi binar penuh ingin tahu seperti puluhan tahun lalu. Tak ada lagi kekencangan balita di sana. Kerut-kerut merayapi dahi, turun mengakar di ujung mata.

Ingatan pun melayang kembali pada suatu waktu di akhir tahun 80-an. Terbangun dalam pelukan ibu. Nenek duduk di seberang sofa, tengah berbincang seru dengan beliau. Nada suaranya dinamis, penuh semangat. Sesekali terdengar suara mereka menyeruput teh panas yang baunya semerbak wangi melati. Suara yang paling jelas namun menyenangkan berasal dari dalam dada Ibu. Telingaku yang menempel di atasnya, sudah sangat kenal intonasi, ritme dan volume milik beliau. Ibu yang kulitnya putih seperti pualam, kencang tak termakan usia, yang bahkan ketika memiliki 3 anak, masih tampak seperti gadis. Ibuku yang cantik namun keras seperti intan.

Once upon a time, mom and me...

Hubungan saya dan ibu mungkin bisa dianalogikan dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Fluktuatif alias naik turun. Bahkan pada suatu ketika pernah begitu asing, menjauh.

Sepanjang yang bisa saya ingat, masa balita saya isi dengan pemujaan terhadap sosok Ibu. Beliau adalah segala cinta yang saya miliki di dunia ini..

Rasa rindu paling purba dalam benak saya juga adalah rindu terhadap ibu.

Setiap kali melepas ibu bekerja, saya selalu saja sedih. Masih teringat jelas dalam benak, sosok samar-samar ibu yang diantar oleh adiknya, om saya, ke sekolah tempatnya mengajar dengan mengenakan sepeda motor. Air mata saya berlinang, tiap kali melihat sepeda motor itu melewati jalan berbatu-batu tanpa aspal dengan lubang di sana-sini. Kasihan ibu, begitu pikir saya. Hari rasanya berjalan lama sampai ibu pulang di siang hari. Namun setelah adik-adik saya lahir, ibu menanamkan agar saya bisa kuat. Tidak boleh menangis jika ditinggal beliau bekerja, juga untuk alasan apapun itu. Karena saya anak pertama, dengan adik-adik yang usianya tidak terpaut jauh.

Kalau melihat ke belakang, agaknya usaha saya untuk meredam hasrat menangis, bisa dibilang kurang berhasil. Termasuk juga mengendalikan emosi lainnya. Mungkin bukan dalam bentuk tantrum yang terbuka, tapi lebih buruk lagi, dengan menahannya di dalam hati dan menyiratkannya dalam raut wajah penuh cemberut dan perlawanan.

Dengan emosi yang naik turun, sekali waktu meluap-luap dan over assertive sementara di lain waktu luar biasa murung, ditambah lagi dengan adanya kecenderungan untuk bersikap passive aggressive, masa bertumbuh saya agaknya cukup merepotkan bagi orang tua manapun. Seperti ditarik oleh dua kutub estrim emosi, saya tertawa terbahak-bahak ketika gembira dan tak henti-henti menangis ketika sedang bersedih. Keduanya bisa terjadi dalam waktu yang berdekatan.

Well, I guess I’ve never been an easy child (later, teen) for my parents.

That’s why I always wonder, what kind of patience God gave to my mother, so she could survive my childhood and teenagehood.


Si Jutek dan pemurung

Even since she was 1 years old!


Ibu saya, bukanlah perempuan extraordinary. Dia, sebagaimana perempuan, ibu dan istri pada umumnya adalah pengejahwantaan dari segala cinta kasih, upaya tak henti untuk membahagiakan keluarga dan kekuatan besar yang tersembunyi di balik tubuh kecil yang seperti rapuh. Tak ada yang berbeda. Sama istimewanya.

Sepertinya, tak ada strategi khusus bagi ibu menghadapi anak sulit seperti saya. Ditantangnya luapan emosi, termasuk amarah masa remaja saya dengan sikap dingin. Tak pernah terpancing. Tenang dan seperti tidak terusik. Membuat saya terbelah antara merasa bersalah, takut beliau mengutuk saya jadi batu dan juga sebaliknya merasa terdorong untuk lebih agresif.

Masalah baju adalah satu dari sekian banyak penyebab pertengkaran saya pada ibu. Saya merasa selera beliau kampungan dan tidak mengikuti perkembangan jaman. Apalagi saya dan adik-adik sejak kecil jarang dibelikan baju, tas dan sepatu baru. Selalu ada drama yang menyertai tiap kali ke toko bersama beliau. Saya ingin sesuatu yang trendy, yang dipakai teman-teman sebaya. Sementara bagi ibu, selalu saja ada yang salah dengan pilihan saya. Tidak cocok dengan badan saya lah, terlalu aneh lah, tidak akan bertahan lama lah. Sekali dua kali yang jarang, saya berhasil mendapatkan barang yang diinginkan. Namun, Ibu pun terkadang membelikan sendiri baju-baju yang menurutnya lebih pantas untuk saya. Anehnya, dibandingkan baju pilihan saya, baju-baju dari ibu yang justru lebih sering saya kenakan. Mungkin karena lebih nyaman dan mudah untuk dipadankan dengan apapun.

Bagi saya dulu, ibu sama sekali tidak mengerti dan tidak mau memahami perasaan saya yang halus dan rapuh serupa tisu yang basah terkena air. Beliau memarahi saya habis-habisan tiap kali mendapati saya menangis. Entah itu karena jatuh, terluka, membaca atau nonton film. Yang ada, tiap kali nonton film lepas di televisi atau membaca kisah yang mengharu biru, saya harus bersembunyi di lemari sampai air mata surut, agar Ibu tidak marah. Repot jadinya, mengingat di dekade 90-an itu, stasiun televisi banyak menyiarkan film india, telenovela dan sinetron yang menyayat hari. Majalah Kartini dan Femina yang rutin ibu beli dan sembunyi-sembunyi saya baca, juga punya rubrik oh mama oh papa dan kisah sejati yang selalu berhasil menguras air mata saya.

Jika diingat-ingat, betapa konyol dan piciknya saya yang ketika itu, merasa sudah tahu segala isi dunia dari apa yang saya baca. Seolah-olah, saya lebih pintar dari ibu saya 20 tahun lebih dulu mengecap asam garam kehidupan, Ibu yang setiap harinya menghadapi anak-anak ingusan sok tahu di bangku SMP. Karena itulah profesinya, guru.

Hanya karena saya membaca sedikit buku dan tak henti membaca apapun yang bisa saya temukan, saya lantas merasa sekeliling saya, lingkungan sempit di kota kecil nun jauh di pelosok Sulawesi sana terlalu picik, bodoh, kurang modern, tidak bisa melihat kebenaran. Termasuk orang tua saya. Saya pun membangkang. Menarik ibu saya ke dalam diskusi (atau lebih tepatnya konfrontasi) yang sebelumnya tidak pernah terbayang olehnya yang dibesarkan dalam lingkungan konservatif.

Dengan lancangnya, saya menuduh beliau tidak berperasaan, tidak menghargai hak asasi anak dan berpikiran sempit. Tradisional. Seolah-olah itu hal yang buruk. Hanya karena beliau menugaskan saya untuk pekerjaan rumah tangga sejak usia 10 tahun. Saya pun membandingkan beliau dengan ibu-ibu dari teman-teman saya, yang sepertinya lebih baik, lebih lembut, penyayang. Yang tidak menyuruh anaknya membantu ART mencuci baju seluruh anggota keluarga dengan tangan setiap 3 hari sekali atau mencuci piring dan panci 2 kali sehari, menyapu lantai setiap pagi, siang dan malam. Padahal anak-anak lain yang sepertinya lebih beruntung itu, tidak mengikuti ekstrakulikuler sebanyak yang saya jalani di sekolah.

Dengan kemarahan yang menggelora, tidak terhitung banyaknya kata-kata berintonasi tinggi yang saya lemparkan ke beliau ketika remaja. Sekali waktu, saya pun pernah membanting pintu di depannya hanya karena hal sepele; beliau memaksa saya makan siang (dengan nada perintah yang tegas dan tak terbantahkan) sementara saya yang picky, menolak makan masakan rumah yang tidak saya sukai. Mungkin sebenarnya ibu jauh lebih cerdas dari apa yang saya kira. Mengenal dan memanfaatkan kondisi emosi saya yang buruk dengan lihainya. Jika saja saya tidak kesal dan marah, mungkin saya tidak akan makan dan bisa saja jatuh sakit.

Emosi yang labil juga pernah membuat saya yakin bahwa tidak ada sedikit pun cinta dalam hati saya untuk beliau dan juga ayah. Cuma kepatuhan yang wajib sebagai seorang anak. Kalau saja pintu kemana saja doraemon itu bisa saya pinjam, ingin deh balik ke masa ababil itu supaya bisa menampar saya versi muda, ceroboh dan bodoh itu.

Tapi, berkat kemarahan dan kebodohan di masa ABG itu juga, saya berani mengambil keputusan untuk melanjutkan SMA di kota dan provinsi lain. Jauh dari orang tua dan adik-adik. Saya percaya, saya cukup kuat dan mampu hidup mandiri di usia 15 tahun. Meskipun tidak secara finansial.

Setelah itu, segalanya berubah.

Pasca tinggal terpisah dengan ibu, sedikit banyak hubungan kami pun membaik. Gemblengan masa kecil yang keras, membuat saya kuat, tidak manja. Tinggal di asrama sekolah, saya tidak perlu belajar cara mencuci pakaian dan berbenah seperti mungkin yang harus dijalani mereka yang masa kecilnya dilayani sepenuhnya. Dari situ, saya mulai melihat gambaran yang lebih besar atas cara didik Ibu. “Demi kebaikan kamu sendiri di masa depan” mungkin bukan hanya sekedar lip service yang disampaikannya agar saya mau meringankan bebannya sebagai working mom, sebagaimana dulu pernah terlintas dalam benak saya.

Rasa kesal kemudian berganti rindu. Meskipun merasa merdeka bisa memilih dan memutuskan banyak hal namun tetap saja, dalam beberapa situasi sulit, seringkali saya bertanya pada diri sendiri, “What will mother do in this kind of situation?” Untuk kemudian menyerah, dan menghubungi beliau, meminta saran.

Tidak seperti apa yang saya tonton di film-film produksi Hollywood, Ibu dan saya tidak pernah berbicara dari hati ke hati. Jangankan itu, pelukan dan ciuman sudah lama menghilang sejak saya balita. Namun, hubungan kami ada di suatu level tertentu yang cukup kuat dan terkait. Entah, penjelasan seperti apa yang masuk akal. Dalam satu sorotan mata, Ibu bisa menelanjangi setiap selubung kepura-puraan dan menyelami kedalaman jiwa saya. Sehingga rasanya sia-sia saja untuk berbohong kepada beliau.

Setiap kali terbaring sakit di perantauan pun, saya tidak perlu menghubungi beliau, karena tahu, beliau sebentar lagi akan menghubungi. Entah mimpi, entah perasaan yang tidak enak, Ibu selalu tahu jika saya mengalami kesulitan di seberang pulau. Mungkin itu yang disebut firasat seorang ibu.

Dalam setiap pengalaman pertama sebagai perempuan dewasa, Ibu tak pernah secara khusus mendampingi dan menyelimuti dengan kata-kata lembut. Ketika saya mendapat menstruasi pertama, beliau cuma berkata “Sekarang sudah dewasa, harus hati-hati bersikap.” Itu juga diucapkannya selintas, di dapur ketika saya sedang membantu beliau menyiapkan makanan. Sejujurnya, saya pun akan merasa canggung jika hal itu dibahas panjang lebar dalam kesempatan khusus. Budaya dan adat tidak membiasakan kami dalam hubungan akrab dan manis ibu-anak.

Sejak SMP, secara lisan ibu dan ayah menegaskan bahwa saya dan adik-adik tidak diperbolehkan pacaran sampai kami lulus kuliah dan punya pekerjaan (yang di kemudian hari melunak). Jadi, pacaran cinta monyet saya jaman ABG menganut prinsip backstreet. Namun, entah bagaimana Ibu selalu tahu ketika saya mulai pacaran sembunyi-bunyi. Menginjak usia 17 tahun, saya pun mulai berani melawan aturan itu. Saya sampaikan kepada beliau, bahwa saya punya pacar. Uniknya, beliau berkata “Iya, nggak apa-apa. Kalau temenan biasa seperti itu, boleh.” Sekalipun, tidak pernah beliau menyebut pacar-pacar ketika itu dengan istilah ‘pacar’. Namun, sepertinya ijin beliau sudah saya peroleh.

Setahun kemudian, ketika sedang liburan semester dan pulang ke rumah, saya mengalami patah hati yang pertama. Pengalaman yang mengerikan. Dalam pandangan saya ketika itu, dunia seolah berhenti berputar. Segalanya selesai. Tak disangka, Ibu yang tegas dan penuh aturan, memberikan penghiburan dengan cara yang tidak terbayangkan.

Saya sedang bersimbah air mata meratapi nasib di dalam kamar, ketika Ibu masuk. Dugaan saya, beliau akan marah dan kembali menceramahi saya tentang bagaimana air mata itu harus dihemat. Biasanya, saya akan cepat-cepat menghapus air mata dan berpura-pura tidur. Namun, ketika itu saya terlalu sedih dan tenggelam dalam nestapa jadi tidak mau repot-repot bersandiwara. Nyatanya, beliau berkata dengan suara lembut, yang jarang terdengar, “Mau makan dulu nggak? Itu mama baru masak” saya cuma menggeleng. Dia memandangi saya sejenak, kemudian berkata “Ya sudah, nanti kalau lapar ke dapur saja… Jangan lama-lama sedihnya ya.” Tidak sedikitpun bertanya asal usul air mata saya itu. Beliau seperti sudah mengerti.

Saya takjub bukan main. Bukan hanya karena sikap beliau yang jarang itu. Tapi juga karena heran. Darimana beliau tahu, bahwa saya sedang gundah gulana karena putus cinta? Apakah beliau mendengar percakapan saya di telpon? Padahal ketika itu saya sedang sendiri di ruang keluarga. Sementara beliau jauh di dapur.

Segala logika bisa dibangun, namun rasanya saya cuma perlu untuk percayai bahwa keterikatan emosi antara Ibu dan anak sangat kuat adanya. Berada dalam satu tubuh selama 9 bulan (atau 7 bulan, dalam kasus saya) sepertinya adalah pengalaman yang akan mengikat ibu dan anak, selamanya.

Yang lebih mengherankan sebenarnya adalah fakta bahwa meskipun Ibu juga manusia, namun saran dan keputusannya selalu benar.

Eventually, mother is always right. Whatever the situation is, at the end we’ll find out that she is always RIGHT. Like, always.

Itu telah teruji dan dibuktikan oleh waktu. Sekali waktu ketika berkunjung ke rumah ayah dan ibu, saya mendapati baju, sepatu, tas yang pernah ibu belikan dulu, ternyata … setelah sekian lama terlihat jauh lebih bagus daripada pilihan saya waktu itu yang ternyata norak minta ampun.

Baju-baju, sepatu, tas itulah yang mengikat saya pada Ibu. Saya takut salah mengambil keputusan tanpa restu beliau. Tawaran pekerjaan, keputusan menikah semuanya diambil dengan restu beliau.

Secerdas ibu memahami saya, sebesar itu pula rasa hormat saya kepada beliau. Sesederhana cara beliau menyayangi saya tanpa syarat, sedalam itu pula upaya saya untuk terus mencoba mengerti beliau. Tentu saja, seberapa pun banyaknya kebaikan saya coba saya berikan kepada beliau, tak akan dapat membayar lunas apa yang sudah beliau berikan kepada saya. Karena itu, suatu saat kelak mudah-mudahan saya dapat membalas sisa ‘utang’ saya kepada beliau melalui cinta kasih yang menguatkan kepada anak-anak saya. Sebagaimana dulu pernah beliau ajarkan kepada saya.