Hubungan saya dan ibu mungkin bisa dianalogikan dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Fluktuatif alias naik turun. Bahkan pada suatu ketika pernah begitu asing, menjauh.
Sepanjang yang bisa saya ingat, masa balita saya isi dengan pemujaan terhadap sosok Ibu. Beliau adalah segala cinta yang saya miliki di dunia ini..
Rasa rindu paling purba dalam benak saya juga adalah rindu terhadap ibu.
Setiap kali melepas ibu bekerja, saya selalu saja sedih. Masih teringat jelas dalam benak, sosok samar-samar ibu yang diantar oleh adiknya, om saya, ke sekolah tempatnya mengajar dengan mengenakan sepeda motor. Air mata saya berlinang, tiap kali melihat sepeda motor itu melewati jalan berbatu-batu tanpa aspal dengan lubang di sana-sini. Kasihan ibu, begitu pikir saya. Hari rasanya berjalan lama sampai ibu pulang di siang hari. Namun setelah adik-adik saya lahir, ibu menanamkan agar saya bisa kuat. Tidak boleh menangis jika ditinggal beliau bekerja, juga untuk alasan apapun itu. Karena saya anak pertama, dengan adik-adik yang usianya tidak terpaut jauh.
Kalau melihat ke belakang, agaknya usaha saya untuk meredam hasrat menangis, bisa dibilang kurang berhasil. Termasuk juga mengendalikan emosi lainnya. Mungkin bukan dalam bentuk tantrum yang terbuka, tapi lebih buruk lagi, dengan menahannya di dalam hati dan menyiratkannya dalam raut wajah penuh cemberut dan perlawanan.
Dengan emosi yang naik turun, sekali waktu meluap-luap dan over assertive sementara di lain waktu luar biasa murung, ditambah lagi dengan adanya kecenderungan untuk bersikap passive aggressive, masa bertumbuh saya agaknya cukup merepotkan bagi orang tua manapun. Seperti ditarik oleh dua kutub estrim emosi, saya tertawa terbahak-bahak ketika gembira dan tak henti-henti menangis ketika sedang bersedih. Keduanya bisa terjadi dalam waktu yang berdekatan.
Well, I guess I’ve never been an easy child (later, teen) for my parents.
That’s why I always wonder, what kind of patience God gave to my mother, so she could survive my childhood and teenagehood.



Si Jutek dan pemurung

Even since she was 1 years old!
Ibu saya, bukanlah perempuan extraordinary. Dia, sebagaimana perempuan, ibu dan istri pada umumnya adalah pengejahwantaan dari segala cinta kasih, upaya tak henti untuk membahagiakan keluarga dan kekuatan besar yang tersembunyi di balik tubuh kecil yang seperti rapuh. Tak ada yang berbeda. Sama istimewanya.
Sepertinya, tak ada strategi khusus bagi ibu menghadapi anak sulit seperti saya. Ditantangnya luapan emosi, termasuk amarah masa remaja saya dengan sikap dingin. Tak pernah terpancing. Tenang dan seperti tidak terusik. Membuat saya terbelah antara merasa bersalah, takut beliau mengutuk saya jadi batu dan juga sebaliknya merasa terdorong untuk lebih agresif.
Masalah baju adalah satu dari sekian banyak penyebab pertengkaran saya pada ibu. Saya merasa selera beliau kampungan dan tidak mengikuti perkembangan jaman. Apalagi saya dan adik-adik sejak kecil jarang dibelikan baju, tas dan sepatu baru. Selalu ada drama yang menyertai tiap kali ke toko bersama beliau. Saya ingin sesuatu yang trendy, yang dipakai teman-teman sebaya. Sementara bagi ibu, selalu saja ada yang salah dengan pilihan saya. Tidak cocok dengan badan saya lah, terlalu aneh lah, tidak akan bertahan lama lah. Sekali dua kali yang jarang, saya berhasil mendapatkan barang yang diinginkan. Namun, Ibu pun terkadang membelikan sendiri baju-baju yang menurutnya lebih pantas untuk saya. Anehnya, dibandingkan baju pilihan saya, baju-baju dari ibu yang justru lebih sering saya kenakan. Mungkin karena lebih nyaman dan mudah untuk dipadankan dengan apapun.
Bagi saya dulu, ibu sama sekali tidak mengerti dan tidak mau memahami perasaan saya yang halus dan rapuh serupa tisu yang basah terkena air. Beliau memarahi saya habis-habisan tiap kali mendapati saya menangis. Entah itu karena jatuh, terluka, membaca atau nonton film. Yang ada, tiap kali nonton film lepas di televisi atau membaca kisah yang mengharu biru, saya harus bersembunyi di lemari sampai air mata surut, agar Ibu tidak marah. Repot jadinya, mengingat di dekade 90-an itu, stasiun televisi banyak menyiarkan film india, telenovela dan sinetron yang menyayat hari. Majalah Kartini dan Femina yang rutin ibu beli dan sembunyi-sembunyi saya baca, juga punya rubrik oh mama oh papa dan kisah sejati yang selalu berhasil menguras air mata saya.
Jika diingat-ingat, betapa konyol dan piciknya saya yang ketika itu, merasa sudah tahu segala isi dunia dari apa yang saya baca. Seolah-olah, saya lebih pintar dari ibu saya 20 tahun lebih dulu mengecap asam garam kehidupan, Ibu yang setiap harinya menghadapi anak-anak ingusan sok tahu di bangku SMP. Karena itulah profesinya, guru.
Hanya karena saya membaca sedikit buku dan tak henti membaca apapun yang bisa saya temukan, saya lantas merasa sekeliling saya, lingkungan sempit di kota kecil nun jauh di pelosok Sulawesi sana terlalu picik, bodoh, kurang modern, tidak bisa melihat kebenaran. Termasuk orang tua saya. Saya pun membangkang. Menarik ibu saya ke dalam diskusi (atau lebih tepatnya konfrontasi) yang sebelumnya tidak pernah terbayang olehnya yang dibesarkan dalam lingkungan konservatif.
Dengan lancangnya, saya menuduh beliau tidak berperasaan, tidak menghargai hak asasi anak dan berpikiran sempit. Tradisional. Seolah-olah itu hal yang buruk. Hanya karena beliau menugaskan saya untuk pekerjaan rumah tangga sejak usia 10 tahun. Saya pun membandingkan beliau dengan ibu-ibu dari teman-teman saya, yang sepertinya lebih baik, lebih lembut, penyayang. Yang tidak menyuruh anaknya membantu ART mencuci baju seluruh anggota keluarga dengan tangan setiap 3 hari sekali atau mencuci piring dan panci 2 kali sehari, menyapu lantai setiap pagi, siang dan malam. Padahal anak-anak lain yang sepertinya lebih beruntung itu, tidak mengikuti ekstrakulikuler sebanyak yang saya jalani di sekolah.
Dengan kemarahan yang menggelora, tidak terhitung banyaknya kata-kata berintonasi tinggi yang saya lemparkan ke beliau ketika remaja. Sekali waktu, saya pun pernah membanting pintu di depannya hanya karena hal sepele; beliau memaksa saya makan siang (dengan nada perintah yang tegas dan tak terbantahkan) sementara saya yang picky, menolak makan masakan rumah yang tidak saya sukai. Mungkin sebenarnya ibu jauh lebih cerdas dari apa yang saya kira. Mengenal dan memanfaatkan kondisi emosi saya yang buruk dengan lihainya. Jika saja saya tidak kesal dan marah, mungkin saya tidak akan makan dan bisa saja jatuh sakit.
Emosi yang labil juga pernah membuat saya yakin bahwa tidak ada sedikit pun cinta dalam hati saya untuk beliau dan juga ayah. Cuma kepatuhan yang wajib sebagai seorang anak. Kalau saja pintu kemana saja doraemon itu bisa saya pinjam, ingin deh balik ke masa ababil itu supaya bisa menampar saya versi muda, ceroboh dan bodoh itu.
Tapi, berkat kemarahan dan kebodohan di masa ABG itu juga, saya berani mengambil keputusan untuk melanjutkan SMA di kota dan provinsi lain. Jauh dari orang tua dan adik-adik. Saya percaya, saya cukup kuat dan mampu hidup mandiri di usia 15 tahun. Meskipun tidak secara finansial.
Setelah itu, segalanya berubah.
Pasca tinggal terpisah dengan ibu, sedikit banyak hubungan kami pun membaik. Gemblengan masa kecil yang keras, membuat saya kuat, tidak manja. Tinggal di asrama sekolah, saya tidak perlu belajar cara mencuci pakaian dan berbenah seperti mungkin yang harus dijalani mereka yang masa kecilnya dilayani sepenuhnya. Dari situ, saya mulai melihat gambaran yang lebih besar atas cara didik Ibu. “Demi kebaikan kamu sendiri di masa depan” mungkin bukan hanya sekedar lip service yang disampaikannya agar saya mau meringankan bebannya sebagai working mom, sebagaimana dulu pernah terlintas dalam benak saya.
Rasa kesal kemudian berganti rindu. Meskipun merasa merdeka bisa memilih dan memutuskan banyak hal namun tetap saja, dalam beberapa situasi sulit, seringkali saya bertanya pada diri sendiri, “What will mother do in this kind of situation?” Untuk kemudian menyerah, dan menghubungi beliau, meminta saran.
Tidak seperti apa yang saya tonton di film-film produksi Hollywood, Ibu dan saya tidak pernah berbicara dari hati ke hati. Jangankan itu, pelukan dan ciuman sudah lama menghilang sejak saya balita. Namun, hubungan kami ada di suatu level tertentu yang cukup kuat dan terkait. Entah, penjelasan seperti apa yang masuk akal. Dalam satu sorotan mata, Ibu bisa menelanjangi setiap selubung kepura-puraan dan menyelami kedalaman jiwa saya. Sehingga rasanya sia-sia saja untuk berbohong kepada beliau.
Setiap kali terbaring sakit di perantauan pun, saya tidak perlu menghubungi beliau, karena tahu, beliau sebentar lagi akan menghubungi. Entah mimpi, entah perasaan yang tidak enak, Ibu selalu tahu jika saya mengalami kesulitan di seberang pulau. Mungkin itu yang disebut firasat seorang ibu.
Dalam setiap pengalaman pertama sebagai perempuan dewasa, Ibu tak pernah secara khusus mendampingi dan menyelimuti dengan kata-kata lembut. Ketika saya mendapat menstruasi pertama, beliau cuma berkata “Sekarang sudah dewasa, harus hati-hati bersikap.” Itu juga diucapkannya selintas, di dapur ketika saya sedang membantu beliau menyiapkan makanan. Sejujurnya, saya pun akan merasa canggung jika hal itu dibahas panjang lebar dalam kesempatan khusus. Budaya dan adat tidak membiasakan kami dalam hubungan akrab dan manis ibu-anak.
Sejak SMP, secara lisan ibu dan ayah menegaskan bahwa saya dan adik-adik tidak diperbolehkan pacaran sampai kami lulus kuliah dan punya pekerjaan (yang di kemudian hari melunak). Jadi, pacaran cinta monyet saya jaman ABG menganut prinsip backstreet. Namun, entah bagaimana Ibu selalu tahu ketika saya mulai pacaran sembunyi-bunyi. Menginjak usia 17 tahun, saya pun mulai berani melawan aturan itu. Saya sampaikan kepada beliau, bahwa saya punya pacar. Uniknya, beliau berkata “Iya, nggak apa-apa. Kalau temenan biasa seperti itu, boleh.” Sekalipun, tidak pernah beliau menyebut pacar-pacar ketika itu dengan istilah ‘pacar’. Namun, sepertinya ijin beliau sudah saya peroleh.
Setahun kemudian, ketika sedang liburan semester dan pulang ke rumah, saya mengalami patah hati yang pertama. Pengalaman yang mengerikan. Dalam pandangan saya ketika itu, dunia seolah berhenti berputar. Segalanya selesai. Tak disangka, Ibu yang tegas dan penuh aturan, memberikan penghiburan dengan cara yang tidak terbayangkan.
Saya sedang bersimbah air mata meratapi nasib di dalam kamar, ketika Ibu masuk. Dugaan saya, beliau akan marah dan kembali menceramahi saya tentang bagaimana air mata itu harus dihemat. Biasanya, saya akan cepat-cepat menghapus air mata dan berpura-pura tidur. Namun, ketika itu saya terlalu sedih dan tenggelam dalam nestapa jadi tidak mau repot-repot bersandiwara. Nyatanya, beliau berkata dengan suara lembut, yang jarang terdengar, “Mau makan dulu nggak? Itu mama baru masak” saya cuma menggeleng. Dia memandangi saya sejenak, kemudian berkata “Ya sudah, nanti kalau lapar ke dapur saja… Jangan lama-lama sedihnya ya.” Tidak sedikitpun bertanya asal usul air mata saya itu. Beliau seperti sudah mengerti.
Saya takjub bukan main. Bukan hanya karena sikap beliau yang jarang itu. Tapi juga karena heran. Darimana beliau tahu, bahwa saya sedang gundah gulana karena putus cinta? Apakah beliau mendengar percakapan saya di telpon? Padahal ketika itu saya sedang sendiri di ruang keluarga. Sementara beliau jauh di dapur.
Segala logika bisa dibangun, namun rasanya saya cuma perlu untuk percayai bahwa keterikatan emosi antara Ibu dan anak sangat kuat adanya. Berada dalam satu tubuh selama 9 bulan (atau 7 bulan, dalam kasus saya) sepertinya adalah pengalaman yang akan mengikat ibu dan anak, selamanya.
Yang lebih mengherankan sebenarnya adalah fakta bahwa meskipun Ibu juga manusia, namun saran dan keputusannya selalu benar.
Eventually, mother is always right. Whatever the situation is, at the end we’ll find out that she is always RIGHT. Like, always.
Itu telah teruji dan dibuktikan oleh waktu. Sekali waktu ketika berkunjung ke rumah ayah dan ibu, saya mendapati baju, sepatu, tas yang pernah ibu belikan dulu, ternyata … setelah sekian lama terlihat jauh lebih bagus daripada pilihan saya waktu itu yang ternyata norak minta ampun.
Baju-baju, sepatu, tas itulah yang mengikat saya pada Ibu. Saya takut salah mengambil keputusan tanpa restu beliau. Tawaran pekerjaan, keputusan menikah semuanya diambil dengan restu beliau.
Secerdas ibu memahami saya, sebesar itu pula rasa hormat saya kepada beliau. Sesederhana cara beliau menyayangi saya tanpa syarat, sedalam itu pula upaya saya untuk terus mencoba mengerti beliau. Tentu saja, seberapa pun banyaknya kebaikan saya coba saya berikan kepada beliau, tak akan dapat membayar lunas apa yang sudah beliau berikan kepada saya. Karena itu, suatu saat kelak mudah-mudahan saya dapat membalas sisa ‘utang’ saya kepada beliau melalui cinta kasih yang menguatkan kepada anak-anak saya. Sebagaimana dulu pernah beliau ajarkan kepada saya.
